Feb 1, 2007 wadah bagi Tulisan Bakul yang Reflektif........ Posted by erwien on Mar 10, '09 5:19 AM for everyone Yesterday, there was so many things I was never told Now that I'm startin' to learn I feel I'm growing old (G’n’R) Begitu lah aku menyebutnya. Konsepsi. Bukan lagi harapan, bukan lagi pesan, bukan lagi resolusi. Bukan juga do’a. Itu hal yang berbeda. Yang ingin aku tulis pada 11 Maret itu adalah suatu Konsepsi. Pandangan Bakul, rasa Bakul tentang diri yang semangkin menua, lewat seper-empat abad, tentang dunia yang semangkin lusuh, tentang Indonesia yang semangkin buram, nilai-nilai ter-jungkir balik, dan semuanya tak mudah dimengerti. Maka menginjak 11 Maret 2009, menginjak hari yang 31 tahun ini paling tidak Bakul akan memberikan kata, memberikan kalimat, memberikan kisah, memberikan ucap yang sebelumnya tak terkata, terkalimat, terkisah dan terucap. Kini saatnya. Pertama, Tentang diri. Aku adalah generasi yang terlahir dalam sesaknya perekonomian Orde Baru, minyak mulai surut, Rupiah sudah sedikit tak berarti. Dalam pada itu, pemerintah mulai goyah, tak yakin lagi dengan kekuatannya. Maka lahirlah represi. Aku tumbuh sebagai kanak-kanak di tengah kebebasan yang dibungkam. Pada kampanye ’84 Bakul kecil terkena marah, hanya karena berjingkrak latah melihat pawai parpol sambil berteriak “ hidup Ka’bah.....hidup Ka’bah.....” rupanya ketakutan itu bukan pada Bakul, tapi justru ada pada lingkungan sekitar. Aku adalah diri yang tak nyambung dengan anak seumur, gara-gara kerap melihat bapak berpidato di hadapan warga kampung, menasehati anak-anak muda yang badung, diam-diam menyelinap dalam diri Bakul, “aku kelak akan seperti itu.....berpidato, ucapanku harus di dengar orang....” maka aku tumbuh sebagai anak pengkhayal, mengarang cerita, dongeng atau apa saja..... Tapi masa kecil ku adalah sepi. Aku merindukan sepeda yang tak kunjung ku punya. Aku harus berkelahi merebut sepeda anak lain untuk menikmati indahnya putaran roda sepeda. Maka waktu Maghrib adalah saat tepat untuk bersepeda. Lalu dalam sepi, kutemukan suatu monolog yang indah dalam coretan-coretan gambar ku. Maka aku mulai menggambar, apa saja yang bisa aku gambar.....dalam gambar-gambar itu aku mulai melukiskan imagi ku. Belum terpola memang..... Masa kecil yang seperti itu, tersambung dengan dunia pesantren yang asing. Sedari kecil memang, telah aku dapatkan magnet yang kuat dalam lantunan ayat suci. Tak harus kita mengerti maknanya bukan? Ayat-ayat itu mempunyai tarikan yang kuat, entah apanya, pokoknya aku langsung tenggelam dalam ayat suci. Dan itu membuat aku terseret dalam pesantren. Beberapa nilai berubah. Benar salah berganti. Semua talenta hilang satu persatu. Aku tak lagi mahir bermain catur, aku tak lagi melukis, aku tak lagi main bola. Satu hal yang semangkin menjadi, kemampuan naratif ku semakin tajam, aku semangkin terbiasa dengan budaya oral......hanya itu saja kira-kira yang menjadi benang merah antara aku kecil dan aku dewasa. Pasca Pesantren. Aku tergagap. Aku mulai mencari siapa aku? Siapa Bakul? Apa peran yang ingin ku mainkan di tengah masyarakat? Di tengah keluarga. Aku mencari bentuk dalam berbagai pemikiran orang-orang besar. Cak Nun yang cukup membekas beberapa saat, mulai aku tinggalkan. Aku merangkak menuju Amin Rais, Cak Nur, dawam rahardjo, Kang Jalal, dan terakhir aku bertemu Gus Dur. Dunia pasca ini seakan melesat dengan cepat. Menjadi semacam penghubung, bagi penemuan ruang gerak ku di dunia mahasiswa. Aku lebih memilih menjadi mahasiswa NU, meski aku bukan NU. Aku lebih memilih berpolitik ala santri meski aku adalah abangan! Pada titik ini, aku tak tau lagi apa benar apa salah, apa moral apa etika? Apa Islam dan apa yang tidak Islam? Apa dosa dan apa yang pahala? Aku hanya tau bahwa yang lemah harus kau bela, yang papah harus kau buat berdaya, yang terbelakang harus kau buat maju, yang minder harus kau buat percaya diri, yang berantakan harus kau buat berdisiplin, yang haus kau beri minum, yang lapar kau harus buat kenyang, yang kehilangan arah harus kau beri petunjuk, yang tuli harus terus kau bisiki, yang dianggap hina harus kau angkat menjadi suci, yang dibenci harus kau cari tau bagaimana cara agar dicintai? yang dilaknat harus kau coba untuk menjadi tobat, yang dijauhi kau harus tau bagaimana supaya ia dekat, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku tak tau itu dari mana asalnya, panggilan jiwa kah? Atau rasa sentimentil yang hanya sesaat..... Kedua, Tentang keluarga. Keluarga ku adalah keluarga menengah, yang entah dari mana asal-usulnya. Aku tak dapat mendefinisikannya dengan kata-kata, yang ku ingat hanyalah. Emak-ku adalah panutan bagi keluarga besar. Dan ayahku menuai getahnya. Yang belakangan ini unik. Untuk bertobat, menebus masa lalunya. Ia berpindah, dari seorang abangan, pemuda rakyat, menjadi Muhammadiyah, lalu menjadi NU, mengikuti ajaran tarekat, lalu menjadi abangan lagi, dan kini coba-coba menyelam dalam dunia salaf........ Apa yang berpengaruh padaku? Trilogi Godfather banyak memberi aku inspirasi, bagaimana seorang laki-laki meletakkan dirinya membentuk perannya dalam keluarga. Don Corleone mengatakan kepada putra pertamanya Sonny, “kau jangan mengaku laki-laki, jika tak punya waktu untuk mengurus keluarga.....” itu yang berpengaruh bagi saya, sang Bakul. Kerap kali aku menerawang, oi betapa posisiku ini mirip Michael Corleone, laki-laki bungsu yang menjadi tumpuan keluarga, menjadi penjaga keluarga, cukup berat-tapi membanggakan. Lalu pada usia 30 tahun. Setahun yang lalu, aku membentuk keluarga ku sendiri. Aku telah memilih seorang perempuan untuk menjadi ibu bagi anak-anak ku kelak, menjadi teman di kala suka dan duka, menjadi penghangat malam-malam yang ngungun, dan mengakhiri monolog igauan-ku sepanjang malam...... Konsepku sederhana tentang keluarga. Keluarga sejatinya adalah ikatan antara jiwa yang satu dengan yang lainnya, menjadikan masing-masing qurrota a’yun satu sama lain. Dengan begitu nilai-nilai baik dapat ditanamkan. Dan nilai-nilai itu kemudian akan mempunyai kontribusi positif ketika satu sama lain bertemu dalam ruang publik yang lebih luas, bernama masyarakat dan negara. Jadi bermula dari keluarga yang baik, masyarakat yang baik akan tercipta. Keluarga adalah tempat persemaian individu. Bagaimana sistem yang berlaku dalam keluarga akan tercermin dalam individu-individu yang ada di dalamnya. Dan selanjutnya individu-individu inilah yang akan menyebarkan nilai-nilai keluarga dalam masyarakat yang lebih luas tadi. Maka, janganlah kita mengabaikan keluarga. Keluarga tak hanya dibatasi kuantitasnya, untuk kemudian berharap kualitas yang baik darinya. Keluarga tak hanya cukup dipenuhi hajatnya dengan materi semata, itu tak cukup, sungguh tak cukup. Karena materi tentu tak secara otomatis mendatangkan bahagia. Keluarga harus dibina dengan cinta, dengan kasih sayang, dengan kejujuran, dengan tulus dan ikhlas, dan rasa saling menghormati satu sama lain, itulah qurrota a’yun itulah sakinah mawaddah dan rahmah. Sedangkan wa kaya raya adalah bonus dan ujian dari Nya..... Ketiga, Tentang masyarakat. Menurut Bakul masyarakat terbentuk dari keluarga tadi. Kira-kira lingkaran setannya adalah, dari individu menjadi keluarga kemudian menjadi masyarakat, dan negara. Baik-buruk, hitam-putih akan melintasi lingkaran ini. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang bahu membahu antar elemennya, saling mendukung, asa, asih, dan asuh. Itulah masyarakat. Dalam masyarakat seperti itu perlindungan kepada individu dan keluarga atau golongan atau kelompok dapat dimungkinkan ada. Nilai-nilai seperti itu tentunya dapat digali dari berbagai sumber nilai yang ada dalam sistem kepercayaan masyarakat, dan agama adalah salah satunya. Yang terpenting bagi masyarakat, dalam menjalankan nilai-nilai baik adalah tidak terjebak dalam kerangka normatif dan ritual yang memasung ruang gerak kreasi individu, tentunya sesuai denagn batasan-batasan yang disepakati secara bersama, bukan klaim sepihak. Menjalankan esensi dari nilai-nilai baik adalah lebih utama daripada mempertahankan sisi normatifnya. Konyolnya adalah masyarakat kita cenderung terpaku pada bagaimana caranya menegakkan sisi normatif dari suatu nilai yang terkadang cenderung sempit, diikuti secara membebek tanpa kritik. Pokoknya lestari bentuknya, meski esensinya, maksud dan tujuannya telah jauh menyimpang. Bagaimana mengatasi fenomena ini dalam masyarakat? Mengajak mereka kembali kepada ajaran hati nurani. Tuhan itu sesungguhnya telah menganugerahi kita suatu zat filter yang maha dahsyat untuk mensortir nilai-nilai.....tak lain adalah hati nurani. Kepercayaan boleh berbeda, sumber nilai secara kasat juga boleh berbeda, tapi sebenarnya muaranya sama, yaitu hati nurani. Mari kita ajak masyarakat untuk kembali menemukan hati nuraninya. Dengan cara apa? Belajar jujur, belajar ikhlas. Keempat, Tentang agama. Agama Bakul adalah Islam. Islam turunan. Islam adalah default yang telah diberikan orang tua Bakul persis ketika Bakul terlahir didunia. Meski syukurnya, orang tua Bakul tidak berusaha meng-islam-kan nama Bakul. Nama saya adalah Erwien Kusuma, jauh dari nuansa Islam itu. Pada titik ini Bakul sadar bahwa agama begitu subyektif. Bayangkan jika aku terlahir sebagai Cina, naka niscaya agama ku adalah Konghucu, Budha atau Kristen. Bayangkan juga jika saya terlahir dalam suasaana perbudakan di tanah Inggris atau Amerika, mau tak mau aku akan menjadi Kristen, dan bayangkan jika aku terlahir di atas suku yang secara sistemik mengurung diri dalam masa lalu yang lambat, seperti Badui atau suku minor lainnya, mungkin Bakul akan menganut kepercayaan seperti mereka juga. Jadi agama itu sangat subyektif. Lalu dimana letak bedanya? Iwan Fals berteriak, apa bedanya jika harimau, ular, kerbau, monyet semua menganut agama yang sama (dalam pengertian manusia)? Bakul memahami agama adalah pintu. Jadi apapun pintu itu, darimana pintu itu jika kau memasukinya dan mengikuti aturan mainnya maka kau akan selamat, maka kau akan bertemu pada satu titik yang sama. Garis finish yang sama. Maka sesungguhnya jika kita coba memberanikan diri atau hanya mencoba untuk memahami --untuk memasuki suatu—pintu yang berbeda untuk menuju suatu ruangan tertentu, maka tak dapat dielakkan sesunguhnya kita telah memasuki ruang yang sama, ruang yang itu-itu juga, meskipun pintunya berbeda. Maka, dengan pemahaman seperti itu. Dalam diri saya, dalam diri Bakul. Tak satupun, tak secuil pun ada perasaan atau menyimpan perasaan berbeda dalam menghadapi agama yang lain. Pintu ku adalah pintu Islam, pintu keselamatan. Pintu mu adalah pintu ini pintu itu pintu apa, juga pintu keselamatan. Maka masuklah dari pintu yang berbeda-beda itu untuk menuju keselamatan!jangan ragu! Kelima, Tentang Indonesia. Indonesia adalah negeri yang gampang diduga. Apa sebab? segala sesuatu yang berkembang yang bergerak yang dinamis mengenai Indonesia, adalah kulitnya sahaja, sedangkan roh ke-Indonesiaan itu, ya itu itu juga. Dari zaman kalabende, dari zaman ken angrok hingga zaman naga bonar lalu menjadi zaman dewi persik dan zaman cinta laura, roh-nya ya itu-itu juga. Sayangnya demikian mudahnya kita menebak, me-reka dan mengira-ngira Indonesia, sedemikian mudahnya. Tapi kita tak bisa. Karena apa? Karena kita enggan. Indonesia adalah negara yang belum usai. Bisa dibilang begitu. Karena konsepsi 1908 tentang kebangsaan Indonesai belum tuntas benar, lalu layu. Kemudian muncul lagi 1928 juga tak matang benar, kemudian lunglai. Lalu datang 1945, semua serba tergesa, tanpa konfirmasi, tanpa ba-bi-bu, beranggapan bahwa apamyang disepakati Jawa pasti akan diikuti oleh yang lainnya, berprasangka apa yang dirasakan oleh Jawa juga dirasakan oleh semua, dan ternyata tidak. Maka tak heran, 1950-an setelah diakui berdaulat oleh Belanda, pergolakan tak kunjung terhenti. Justru ketika damai dicapai dengan Belanda, antara negeri mulai beradu. Sumatra emoh Jawa, Sulawesi emoh Jawa, lalu Maluku apalagi. Apa sebab? karena konsep bernegara kita belum usai. Kita baru berastu asal bersatu. Yang penting Tunggal Ika lah......Bhineka nya belakangan. Lalu masa Orde Baru kembali menyergap. Mendadak jawa-isasi menjadi bertambah-tambah. Slogan-slogan pembangunan yang nasional menjadi jawa, arti nasional seakan menjadi 80% jawa dan sisanya lu bagi aja ramai-ramai..... maka terciptalah konstruk diluar kepala kita apa yang bukan Jawa, apa yang selain Jawa adalah etnik.Sedangkan Jawa bukan etnik, tapi nasional! Lalu apalah Jawa, etnik-kah ia? Atau apa? Nama sebuah rumpun besar bernama nasional? Maka tak heran, 32 tahun seperti itu. Siapa yang berpolitik harus menjadi Jawa, siapa yang ingin menjadi tokoh masyarakat haruslah Jawa, siapa yang mau memerintah harus menjadi Jawa, kau Islam? Islamlah yang Jawa, kau Kristen? Kristenlah yang Jawa, kau Hindhu? Hindhulah yang Jawa? Kecuali satu, kau berdagang? Jangan menjadi Jawa, jadilah Cina! Hehehehehe Indonesia yang seperti itu menjadi sangat sempit. Hingga kita tak berani berandai-andai, meski hanya menghayal saja. Kalau—kalau pemimpin kita, Presiden kita adalah yang satu orang Papua dan wakilnya adalah orang Aceh! Tak ada khayalan seperti itu. Nama jawa harus terselip, salah satu. Dan lebih bagus adalah yang pertama, yang kedua terserah saja, asal tetap Islam! Hah? Itukah Indonesia yang Bhineka itu? Dahulu Bakul mempunyai seorang teman, adik kelas tepatnya, pada waktu pemilihan ketua Senat Fakultas, saya berkeras agar ia maju, karena pikir saya ia mampu. Tapi apa yang ia kata “enggak lah bang, aku ini Kristen. tak mungkin ada yang mau memilih ku”. Hah? Itu dalam level yang sangat kecil seperti Senat Kampus, kita orang Indonesia yang dengan lantang meriakkan Bhineka Tunggal Ika mempunyai perasaan seperti itu? Apalagi untuk jabatan seorang Presiden? Adakah impian bagi orang Hindhu atau orang Budha, orang Katholik yang kelak akan dapat menjadi atau paling tidak berani menciptakan peluang untuk menjadi seorang Presiden Republik Indonesia? Saya memimpikan Indonesia yang seperti itu. Indonesia yang menjamin semua impian rakyatnya, berani untuk bermimpi yang sama. Berharapan yang sama, bercita-cita yang sama, berpeluang yang sama, ber ber dan ber yang lain –lain yang sama. Itulah Indonesia. Itulah Konsepsi ku. Konsepsi 31. Posted by erwien on Mar 4, '09 1:38 AM for everyone  Ada yang mengganggu dalam hati Bakul akhir-akhir ini. Saya coba mencari apa itu? Ternyata tak lain tak bukan adalah Ponari. Ya, Ponari. Tak lengkap rasanya tidak merekam kisah bocah cilik itu dalam tulisan Bakul. Selama beberapa hari bahkan minggu, semua media tak pernah bosan meliput Ponari. Bagai suatu kelatahan, semua orang membicarakan Ponari, memelesetkan Ponari. Ada yang berkisah sambil bercanda, ada yang serius, bahkan ada juga yang marah-marah. Heran. Siapakah gerangan Ponari? Ia adalah bocah kelas dua atau tiga SD yang mendapatkan batu ajaib, entah dari siapa, jatuh menimpuk kepalanya kala hari hujan. Dan ternyata batu itu bukan sembarang batu. Dari batu itulah (mungkin batu meteor) nasib Ponari berubah menjadi bocah ajaib. Masyarakat menjadikannya dukun cilik yang mandraguna, dianggap mampu mengobati segala penyakit dengan hanya mencelupkan si batu pada air yang mereka percaya akan dapat menyembuhkan penyakit, segala penyakit. Dalam sekejap, Ponari menjadi bocah yang tersibuk di dunia! Saban hari, antrian manusia, ratusan kemudian menjadi ribuan, berjubal memenuhi halaman rumah Ponari meminta celupan batu Ponari untuk kesembuhan. Semangkin hari semangkin ramai, keluarga besar Ponari-pun mulai sibuk, para tetangga ketiban rejeki, panitia pengobatan dibentuk, dan dalam hitungan hari ratusan juta terkumpul dalam pundi-pundi keuangan keluarga Ponari. Tentunya mereka senang dengan rejeki itu? Tapi bagaimana dengan Ponari? Bocah itu mungkin belum mengerti apa-apa. Belum mampu merasakan nikmatnya tumpukan uang yang dihasilkannya. Tak mampu merasakan apa nikmatnya menjadi kesohor mandraguna yang saban hari harus melayani ribuan orang. Yang jelas, ia tak mampu mengelak dari itu semua. Vonis masyarakat memang kejam. Teramat kejam. Sekali sakti kata masyarakat maka ia akan menjadi sakti untuk selamanya. Sekali Ponari tetap Ponari. Bahkan ketika Ponari menghentikan kegiatan penyembuhan itu, mereka berubah menjadi semangkin ngawur, semua benda di sekitar rumah Ponari menjadi sasaran. Genteng, tembok gedeg, tanah dan sampai-sampai air comberan pun dianggap mereka telah terkontaminasi dengan pulung kesaktian batu Ponari. Seorang Ibu tersedu. Ia menyayangkan Ponari yang tak lagi mau –atau dilarang—untuk melanjutkan prakteknya. Ibu itu mengidap penyakit ginjal, dan ia berharap dengan air celupan batu Ponari ia bisa sembuh. Berhari-hari ia tak pulang hanya untuk menunggu Ponari. Tak peduli beberapa korban antrian telah jatuh, mati terinjak ramainya kerumunan manusia. Tapi ibu itu tetap bertahan. Katanya, tak mungkin ia menyembuhkan penyakitnya dengan pergi berobat ke dokter. Tentu biayanya mahal. Ia tak mampu mungkin. Maka ia lebih memilih Ponari, lebih memilih celupan batu untuk menyembuhkan penyakitnya. Bukan dokter! Hal itu tentu mengkhawatirkan bagi kita semua. MUI khawatir. Tokoh-tokoh agama khawatir. Dokter-dokter khawatir. Kak Seto juga khawatir, meski beberapa orang mulai kreatif dengan mengusulkan agar celupan air batu Ponari diproduksi secara massal menjadi semacam Ponari Sweat misalnya! Hahahaha Dan tentunya kekhawatiran itu berbeda-beda. MUI dan para ulama itu khawatir akan kesyirikan yang ditimbulkan batu Ponari. Para dokter khawatir masyarakat mulai tidak rasional, masak batu bisa mengalahkan fungsi mereka sebagai otoritas penyembuh masyarakat? Kak Seto khawatir Ponari tak lagi sekolah, haknya sebagai anak kecil terenggut oleh kepercayaan masyarakat akan kesaktiannya. Lalu apa kekhawatiran saya? Apa kekhawatiran Bakul? Kalau MUI atau ulama mengatakan bahwa praktek penyembuhan itu adalah musyrik itu sudah biasa di Indonesia. Kecuali Ponari mau mensertifikasi halal produk celupannya melalui MUI, seperti produk-produk konsumsi dan kesehatan lainnya di negeri ulama ini. Ulama mengatakan hal itu musyrik sudah jelas karena mereka adalah ulama, bukan awam seperti para pasien Ponari yang notebene, tentu pendidikan agamanya kurang, sehingga himpitan ekonomi yang nyata bagi awam seperti mereka itu dapat meluruhkan nilai-nilai agama. Dokter khawatir ya jelas. Karena merekalah seharusnya yang pertama kali merasa tertampar dengan eksistensi Ponari. Apa artinya mereka menempuh pendidikan tinggi yang susah dan berbiaya mahal, jika ternyata ilmunya, kemampuannya tak dianggap berguna bagi masyarakat, sehingga “kalah” dengan sesuatu yang mereka anggap klenik tak rasional itu. Lalu apa kekhawatiran saya? Apa kekhawatiran Bakul? Saya khawatir dengan kekahwatiran orang-orang yang khawatir itu. Bagi Bakul betapa fenomena Ponari telah secara telanjang menunjukkan kepada kita bahwa kondisi kita saat ini, kondisi masyarakat kita saat ini, benar-benar menyedihkan. Seakan-akan mereka terlantar. Sebagai warga negara ternyata selama ini mereka tak terpuaskan dengan kualitas pelayanan yang diberikan oleh negara kepada mereka. Sehingga dengan sangat terpaksa Ponari-lah menjadi sang juara-nya bukan siapa-siapa. bukan ulama-ulama itu dan bukan dokter-dokter itu. itulah kekhawatiran saya. Posted by erwien on Feb 1, '09 10:26 PM for everyone Aku kurang banyak mengenal film, kecuali film-film yang banyak beredar di bioskop 21. aku tak mengetahui bagaimana suatu film diukur, dikategorikan, bagaimana mutunya harus ditimbang, indie-kah? Film itu atau hasil industri semacam Hollywood juga Bollywood? Aku hampir tak peduli, apakah latar produksi mereka mempunyai pengaruh tertentu kepada pesan yang akan disampaikan film itu. Aku hampir tak peduli sama sekali. Pikir ku itu hanya masalah akses, jaringan distribusi film. Jadi dari kedua sisi, baik indie atau tidak, konsumsi industri atau tidak. Dua-duanya mempunyai peluang yang sama untuk menyampaikan pesan moralnya masing-masing. Dari kecil. Aku mencintai bioskop. Bukan karena layarnya yang lebar (layar tancap juga lebar kan layarnya?). Tapi suasana bioskop memang memunginkan aku untuk menyelami suatu film, menela’ahnya dengan baik. Sehingga pacar-pacar ku dahulu sering mengeluh karena aku nonton bisokop hanya ditemani sebotol kecil air mineral, tanpa pop-corn tanpa soft-drink(hehehe pelit ya). karena alasanku adalah supaya bisa nonoton bioskop dengan konsentrasi, serius.film-filmnya pun tak kalah serius, selain action, aku terutama suka film bergenre aksi-drama,thriller.pokoknya yang serius, bahkan film panas-pun harus berstandar seperti Xiu-Xiu dengan latar revolusi kebudayaan di China! Film humor? Boleh juga tapi sedikit. Dari Kecil. Aku mencitai bioskop. Mungkin ini hobby turunan dari bapak Bakul yang waktu mudanya juga gemar nonton bioskop. Maka di rumah kami dahulu, bapak Bakul tak pernah membeli video tape, vcd atau semacamnya. “kalau mau nonton film beneran, sudah pergi aja ke bioskop!, jangan nonton di rumah!” begitu ujarnya suatu kali. Maka kerjaan Bakul pada saat liburan pesantren adalah, nonton bioskop secara marathon! Merapel semua film yang belum sempat ditonton! Dan tidak melewatkan setiap jam mid-night Bioskop 21 setiap akhir pekan! Era yang Bakul ceritakan itu, adalah era 90-an. Dimana film-film Indonesia sedang mati suri. Hampir tak ada film-film berkualitas yang dilahirkan oleh sineas Indonesia pada waktu itu. Tak ada lagi Ponirah Terpidana, Bila saatnya Tiba, Nagabonar, Ramadhan dan Ramona, Pacar Ketinggalan Kereta, Dua Tanda Mata yang semuanya diproduksi pada era 80-an. Selain film-film komersial itu, ada juga film 80-an yang disponsori oleh negara, yaitu Pengkhianatan G 30 S/PKI dan Janur Kuning, dua-duanya adalah film dokriner yang menjadikan Soeharto sebagai jagoan. Terlepas dari itu, diantara film-film itu Ponirah Terpidana, Dua Tanda Mata, dan Pengkhianatan G 30 S/PKI hingga saat ini mempunyai tempat tersendiri di hati Bakul. Lalu kapan lagi film Indonesia mulai bergeliat? Aku tak tau pasti tepatnya. Yang aku ingat adalah, masa Reformasi 98-99 telah kembali membuka kran kreatifitas para sineas. Film-film drama garapan Garin boleh dibilang adalah mata pisau dari kebuntuan film-film Indonesia, meski tak laku di bioskop!Dan akhirnya Gita Cinta Masa SMA ala baru muncul kembali lewat Ada Apa Dengan Cinta (AADC) karya Riri Riza. Kalau dahulu ada Rano Karno dan Yessy Gusman, maka tahun itu ada Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Sejak AADC inilah aku melihat kembali antrian penonton yang mengular di loket film Indonesia! Menyusul kemudian film horor Jelangkung! Yang segera mengatakan bahwa era setan horor ala Suzanna telah berakhir! Lalu bagaimana dengan Hollywood dan Bollywood. Keduanya tetap memproduksi film dengan tingkat kecerdasannya sendiri. Lebih khusus Bollywood, harusnya kita merasa iri dengan mereka. Untuk kelas Asia, banyak film cerdas yang dilahirkan disana, meski Iran juga pernah menghasilkan film sekelas Children of Heaven yang menyentuh itu. Tapi Bollywood selalu datang dengan trend yang selalu mempunyai pengikut di Indonesia. Kekuatan Bollywood adalah kekuatan tema bukan teknologi. Secara teknologi jelas Hongkong yang nomor satu di Asia, hingga mampu melahirkan film semacam Crouching Tiger Hiden The Dragon yang mengolah eksotisme budaya Timur dengan teknologi mutakhir! Di Indonesia, tema-tema film Bollywood selalu menjelma menjadi sinetron, atau film pendek model FTV. Apakah itu bentuk kelatahan industri atau apa?entahlah. Dan kekuatan tema, kekuatan cerita yang cerdas itu kembali muncul dalam film Slumdog Milionaire! Dan aku berimagi kapan sineas kita, sineas Indonesia menghasilkan kecerdasan yang sama! Oh Ponirah, Dua Tanda Mata, Nagabonar........lahirlah kembali. Posted by erwien on Jan 23, '09 3:51 AM for everyone  “Amerika Serikat menapaki sejarah baru setelah Barack Obama diambil sumpahnya sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat, Selasa (20/1) pukul 12.00 waktu setempat atau Rabu tengah malam WIB. Pelantikan ini merupakan lompatan besar bagi AS di mana untuk pertama kalinya seorang keturunan kulit hitam menjadi presiden” Demikian tulis seorang wartawan senior sebuah koran terkemuka di Jakarta melaporkan pelantikan Barack Hussein Obama sebagai Presiden Amerika Serikat. Sontak dunia menyambut lompatan besar Amerika itu dengan gempita, segala optimisme mulai merebak, menghapus beberapa penilaian negatif yang selama ini kita alamatkan kepada Amerika di bawah pimpinan Bush yang gemar berperang itu. Sedari awal munculnya Obama adalah harapan dan inspirasi bagi semua orang. Usia Obama yang terhitung muda itu sempat menginspirasi beberapa kalangan muda Indonesia untuk maju sebagai pemimpin negara. Tapi mustahil bukan? Sekali lagi, untuk saat ini masih mustahil bukan? Indonesia dipimpin oleh orang muda? Wah, itu impian yang terlalu mewah bagi kita untuk saat ini. Dan seperti dibayangkan anak-anak muda itu rontok satu persatu, mundur dari pencalonan pemimpin negara, tapi sebaliknya Obama terus melaju dengan pasti dan membuat lompatan yang besar bagi sejarah Amerika! Terus terang saja, mulanya saya pribadi juga menganggap bahwa Obama adalah impian Amerika, belum tentu bisa menjadi kenyataan. Tapi begitulah, kerja keras mengubah segalanya, harapan jika dikombinasikan dengan kerja yang suangat kerasssss! Maka menjadi nyata, seperti Obama, seperti Amerika. Mulanya saya pesimis, saya hanya mengelus dada, intuisi Jawa saya kambuh mendadak, jangan-jangan, jangan-jangan, Obama bernasib sama seperti JFK, Luther King, Malcolm, juga Bobby Kennedy.....jangan-jangan, tentakel jahat yang kuat itu masih ada, dengan mudah mereka merenggut harapan Amerika! Satu-persatu mereka musnahkan orang-orang baik yang berusaha meluruskan jalan Amerika. Tapi itu masa lalu sudah. Atmosfir perang dingin ternyata telah benar-benar usai, perseteruan Barat dan Timur telah usai, peta politiknya telah berubah dan Obama ternyata dikehendaki untuk tetap ada, mengisi harapan Amerika juga dunia! Barack Hussein Obama, tiga suku kata yang saya benar-benar tidak duga sebelumnya dapat menjadi Presiden bagi Amerika, yang selama ini tampak berhati-hati dengan segala yang berbau arab? Ali, Hussein, Jarrah, Ziad, Abbas, Mahmoud.....adalah nama-nama yang susah sekali menembus perizinan visa menuju Amerika, pasca peristiwa 11 September itu. Tapi Tuhan memberi mereka, nama arab! Tuhan memberikan nama yang selama ini mereka hindari dan menjadi nama nomor satu bagi mereka! Amerika, yang pernah bermasalah dengan urusan rasial, hitam dan putih, yang mungkin hingga saat ini sisanya masih ada, dengan tiada disangka-sangka Tuhan memberi mereka seorang keturunan kulit hitam untuk memimpin mereka! Itulah lompatan besar bagi Amerika! Itulah pelajaran berharga bagi bangsa Amerika! Juga bagi dunia! Apa yang engkau benci selama ini, akan dipaksakan oleh Tuhan untuk engkau cintai! Jangan-jangan apa yang kamu cintai adalah tidak baik bagi kamu, dan jangan-jangan apa yang kamu benci adalah yang terbaik bagi kamu. Itulah yang ingin Tuhan katakan kepada kita. Lalu bagaimana dengan Indonesia. Lompatan besar apa yang akan kita buat untuk negeri ini? pelajaran apa yang akan diberikan oleh Tuhan untuk bangsa yang bhineka ini? Apakah suatu saat Tuhan akan memberi pelajaran yang sama dengan Amerika kepada kita? Asal itu adalah kebaikan, meski sebuah ironi kita harus siap menghadapinya. Posted by erwien on Jan 19, '09 12:09 AM for everyone Pagi tadi aku membaca Surah Ibrahim. Ada nama Musa. Membuatku teringat akan Gaza. Siapakah Musa? Ia adalah seorang nabi yang perkasa yang diutus Tuhan untuk membawa Israel keluar dari penindasan Raja Diraja Fir’aun, penguasa Mesir. Musa tak pandai bercakap, meski ketegasan sikapnya, keberaniannya tak ada duanya di dunia. Lidahnya serasa kelu, penuh tetelor apabila ia berbicara. Maka ia meninta Harun sebagai pendampingya untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, menuju tanah yang dijanjikan, yaitu Palestina. Pagi tadi dalam surah Ibrahim itu, saya membaca firman Allah “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” Lalu Ia mengirim Musa kepada Israel, karena Ia tau bahwa hanya Musa-lah yang mampu memimpin bangsa Israel itu. Atau Ia menjadikan manusia Musa yang cakap dan mampu untuk memimpin bangsa Israel itu. Meski Musa tak pernah sampai menghantarkan mereka ke tanah yang dijanjikan. Toh, akhirnya bangsa Israel hingga hari ini masih berusaha keras untuk kembali ke tanah yang dijanjikan itu. Mereka ingin kembali ke Palestina! Masih ingin kembali. Pagi tadi saya jadi teringat Gaza. Entah jalur, entah kota, entah apa itu Gaza, saya tak peduli. Telinga ini telah ribuan kali mendengarnya. Sejak zaman televisi hitam putih, sejak zaman Dunia dalam Berita kita simak secara serempak tepat pukul sembilan malam, sejak saat itu kita selalu melihat Gaza berlumuran darah, Gaza penuh dengan asap putih, orang-orang bersorban melempar batu sambil teriak, lalu tentara membalasnya dengan letupan senapan, ibu menangis, anak merintih, ambulance berlari kencang, tak ada habis-habisnya Gaza. Gaza seperti arti namanya, benteng, yang kuat, memang benar-benar kuat. Benar-benar benteng dari segala perang, perang yang tak kunjung usai, balas membalas, hingga sudah menjadi kabur, siapa menyerang siapa, karena apa, sebab apa. Semua pihak berbalas alasan, berbalas argumen yang tak ada habis-habisnya seperti juga roket mereka,amunisi mereka yang sia-sia menebus nyawa orang-orang tak berdosa. Pagi tadi, seperti kemaren-kemaren. Saya sudah tak ingin tau lagi siapa punya salah apa. Bagaimana hikayat perang antar mereka. Siapa yang lebih kejam dan lebih biadab diantara mereka. Saya sungguh tak ingin tau lagi. Yang saya ingin benar-benar tau sekarang adalah bagaimana perang itu berhenti di Gaza, bagaimana darah dan tangis itu tak lagi mengucur di Gaza, bagaimana asap tebal itu, batu-batu itu, peluru-peluru itu, roket-roket itu tak lagi membumbung tinggi di angkasa Gaza. Gaza, akankah kamu membutuhkan Musa? Israel apakah kalian masih membutuhkan Musa? Inikah dosa turunan yang dibuat Musa yang tak pernah menyampaikan kalian kepada tanah yang dijanjikan? Maka hingga hari ini kalian ingin merebutnya sendiri? Masih berlaku kah janji itu bagi kalian? Masih berkobarkah semangat kembali ke ltanah perjanjian itu dalam hati kalian? Hingga dengan cara apa saja kalian ingin sampai kepadanya? Musa, menjelmalah kembali. Bangkitlah dari kematian sejarah mu. Kami membutuhkan manusia tegas dan pemberani seperti engkau. Bawalah serta Harun, saudaramu itu. Agar ia mengajari kami bagaimana cara bersilat lidah yang santun, bersilat lidah dengan penuh keadaban. Hari-hari ini kami telah kehilangan itu semua. Kami telah kehilangan ketegasan dan keberanian yang santun dan beradab. Kami hanya mengingat sepotong-sepotong saja. Kami hanya mau meneladani sebagian saja. Kami selalu mengingat kemenangan dan kekalahan Perang Salib. Tapi tak menghiraukan kenapa menang?kenapa kalah? Kenapa perang? Kenapa perang? Kenapa perang? Kami terbuai romantisme yang palsu. Gaza, kuatkan dirimu. Semoga Musa akan segera tiba. Posted by erwien on Jan 18, '09 10:58 PM for everyone “Siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu? Yang saya namakan Marhaen adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat: yang telah dimelaratkan oleh setiap kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme” Itulah salah satu ujaran Soekarno yang meresap dalam hati saya. Kaum Marhaen, ya mereka masih ada dimana-mana. Mereka tetap nyata setelah puluhan tahun didefinisikan oleh Soekarno. Ada suatu masa, mereka, kaum Marhaen, menghilang dari pelafalan kita, hilang dari bacaan anak-anak kita di bangku sekolah. Mereka hilang, meski masih tetap ada. Mereka sengaja dihilangkan. Agar kita anak-anak bangsa, tak lagi bisa melihatnya, tak lagi bisa merasakannya, tak lagi menyebutnya. Tak ada lagi Marhaen dalam benak kita, tak ada Marhaen, sebab ia hanya omong kosong sejarah, sebab ia hanya sebaris angka yang keliru dalam statistik kehidupan kita. Tapi toh, waktu tak bisa menipu kita terus menerus. Kini Marhaen tampak nyata di hadapan kita, tapi sayang kita terlanjur tak lagi merasakannya. Soekarno. Tak penting siapa ia. Jatuh dari langit mana. Siapa moyangnya. Tak penting sama sekali bagi saya. Apakah sama antara aku dan kamu, hai Soekarno tak penting sama sekali. Yang terpenting adalah bagaimana saya mencamkan kata-kata mu. Mengenangmu dengan semestinya. Meneladanimu dengan semangat yang membara. Mencoba mereka-reka pikirmu, apa yang masih tersisa hingga saat ini. Seperti Marhaen itu contohnya. Setiap memandang Marhaen di pinggir-pinggir jalan, di kolong jembatan, di reruntuhan pembangunan kota, maka benak ku tertuju kepada Soekarno. Ingat Marhaen ingat Soekarno. Ingat Soekarno ingat Marhaen. Maka, agar tak pudar itu semua. Aku letakkan ingatan itu pada sudut-sudut kamar kerja ku. Aku pandangi setiap pagi dan malam. Sosok mu Soekarno, juga sosok mereka, Marhaen-Marhaen itu. seakan engkau menyeru ku........ “Hai pemuda mana janjimu? Entaskan Marhaen ini dari jurang kemelaratan! Entaskan, Entaskan, Entaskan.......” Soekarno. Aku ingin menyandang nama mu. Entah dari mana sumbernya, foto ini saya unduh dari internet. menarik sekali, Soekarno sedang mengajar membaca "Dek Wingi Sarangan......." Yang ini adalah photo Soekarno yang melakukan kunjungan ke Jawa Timur. dari dalam gerbong kereta di suatu stasiun di Blitar, ia menyapa rakyatnya. koleksi ini saya ambil dari poster Komunitas Utan Kayu yang nempel di dinding kampus.........saya cabut, saya bingkai dan menjadi seperti ini...  Yang ini koleksi terbaru, Kalender 2009, Soekarno bersama pembantu kesayangannya Sarinah.....
Posted by erwien on Jan 15, '09 10:39 PM for everyone Hujan adalah petunjuk, begitu ujaran guru saya. Entah darimana asal kata hujan. Saya coba mereka-reka, mungkin hujan itu adalah kata serapan dari kata hudan bahasa arab yang berarti petunjuk. Bukan kah kita umat Islam, dalam setiap sholat kita, dalam setiap bacaan pembuka kita selalu melafalkan “ihdina as shiroot al mustaqimm” artinya “berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus (diluruskan)”....... lalu turunlah hujan, turunlah petunjuk itu. Setiap hari setiap waktu, hujan itu kini turun membasahi bumi kita. Begitulah yang saya rasakan hari-hari ini. Mendapat hujan. Mendapat petunjuk. Petunjuk untuk melihat yang benar, merasakan yang benar, melakukan hal yang benar pula. Hari-hari ini Jakarta basah sekali. Sungai-sungai mulai bergembira karena space-nya dapat benar-benar terpenuhi oleh air, bukan lagi sampah. Pagi-sore-malam, hujan menemani kita, menunjuki kita untuk selalu bersedia payung sebelum hujan. Itu pelajaran antisipasi, untuk misalnya berhemat sebelum nantinya masa-masa krisis ekonomi akan kembali mendera kita di waktu yang akan datang (meski saya berharap tidak ada krisis). Hujan juga memberi kita rasa simpati, menggerakkan do’a untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Terkadang saya berpikir. Lho hujan adalah petunjuk, tapi kok malah menimbulkan bencana. Oh, mungkin kita, manusia salah dalam mengelola petunjuk itu, keliru dalam menafsirkan petunjuk itu, sehingga akhirnya kita sendiri yang tenggelam oleh petunjuk itu. Atau mungkin kita yang segan untuk menerima hujan, menerima petunjuk dengan telapak tangan menengadah. Lha bagaimana menerima petunjuk jika telapak tangan mu tertelungkup-tertutup? Jika demikian, pastilah hujan itu, petunjuk itu akan mengalir deras, menciprat muka mu, dan kita terluka karena hujan, terluka karena petunjuk. Hujan adalah petunjuk, begitu ujaran guru saya. Posted by erwien on Dec 1, '08 1:20 AM for everyone Istri Bakul adalah seorang guru SD. Ia sangat mencintai pekerjaannya. Ia sangat serius dengan proses ajar-mengajar anak-anak itu. Hingga terbawa dalam mimpi malam-malamnya. Kerap kali Bakul kaget, karena ia mengigau, menyebutkan sebuah nama, Enzo, Enzo jangan lari-lari..... atau Brian......hati-hati!dan beberapa nama lain sering ia sebut dalam tidurnya itu. Bakul tergelitik dengan nama-nama itu. Enzo, Brian, Daffa, Bruno...... alamak nama anak-anak zaman sekarang, indah-indah, kosmopolit, simpel untuk diingat dan mudah untuk diteriakkan, sampai-sampai --maaf-- nama-nama itu mirip juga dengan nama anjing-anjing di pekarangan rumah nenek-mertua Bakul di Benhil yang juga diberi nama aneh-aneh. Sejak kapan Bakul tertarik dengan nama-nama? Sejak kecil, jawabnya. Dahulu emak Bakul yang dituakan diantara keluarga, kerap mendapat kehormatan untuk memberi nama pada bayi-bayi yang terlahir. Suatu ketika si emak memberi pilihan nama, Muhammad Farid atau Muhammad Maulana? kalau Farid nakal, kalau Maulana pendiam, demikian ujarnya kepada seorang kerabat. Dan hingga kini si anak telah menjadi seorang pemuda dan hampir menikah, dengan nama Muhammad Farid. Lalu bagaimana kelakukannya?entah ada hubungan atau tidak dengan namanya, Farid memang bandel! Hehehehehehe Lalu tugas memberi nama dalam keluarga itu, turun kepada Bakul. Apa alasannya? Bakul dianggap kompeten, lulusan pesantren, paham literatur arab, mengenal bahasa al Qur’an, dll. Berbagai alasan yang akhirnya meletakkan tugas itu kepada Bakul. Hanya saja Bakul membatasi, hanya mau memberi nama kepada keponakan-keponakan saja......Maka, Tak heran tiga dari lima keponakan Bakul menyandang nama yang Bakul beri. Bermacam-macam, ada Rikzah, Raisis, dan Lainiyah. Nama-nama dari khazanah bahasa arab yang artinya tentu bagus-bagus. Darimana inspirasinya? Bermacam-macam, ada yang dari kamus bahasa arab, ada yang dari Al Qur’an atau ada juga dari novel arab! Pokoknya orang tua si bayi ridho, maka diambil lah nama itu sebagai nama si anak. Biasanya, kakak-kakak Bakul mensyarati terlebih dahulu apa kriteria nama-nama yang mereka inginkan, yaitu bahasa arab tapi bukan nama yang populer dan biasa digunakan oleh orang-orang kebanyakan seperti Salsabilla, Nabilah, Yashinta dll. Dijamin nama-nama ini banyak beredar di rapor-rapor sekolah SD hingga SMU pada saat ini! Dan dengan syarat-syarat itu Bakul biasanya lantas mencari nama, dengan prinsip bahwa nama adalah do’a dan harapan yang orang tua sampirkan kepada si anak. Dengan prinsip itu, biasanya Bakul mulai menawarkan nama dan menjelaskan pengertian nama-nama itu agar si orang tua benar-benar menghayati nama, do’a dan harapan yang ia ingin sampirkan kepada anaknya? Nama adalah do’a. Itu adalah prinsip yang paling standar bagi orang tua dalam memberi nama kepada anaknya. Setelah itu faktor sosial apa, pengalaman spiritual apa, atau suasana apa yang membekas dalam hati si orang tua, lantas akan bermain dalam mempengaruhi lahirnya sebuah nama. Dahulu (atau hingga saat ini?) petani Jawa memberi nama anak-anaknya dengan kata yang sangat sederhana, seperti Cikrak, Gudel, Pedet, tak perlu nama apakah itu, yang penting bagi mereka cikrak-gudel dan pedet itu dapat mendatangkan manfaat bagi manusia, maka mereka memberi nama anaknya dengan nama-nama perkakas dan binatang ternak itu. Ada juga yang memberi nama berdasarkan nama hari pasaran dimana anak mereka lahir, seperti Pon menjadi Poninten-Poniman; Legi menjadi Legiman; Wage; Kliwon dll. Lalu pada masyarakat priyayi Jawa mulai digunakan nama-nama yang lebih agung, menggunakan kata sansakerta atau jawa kuna yang pada masanya hanya dimengerti oleh kelas terpelajar. Maka dalam level ini muncullah nama seperti Ananto, Purwanti, Bagus, Kusumo dll. Seiring dengan jalannya proses Islamisasi diantara priyayi jawa, maka mulai muncullah nama-nama Islam di kalangan mereka. Tepatnya awal abad -20 proses Islamisasi nama-nama ini mulai berlangsung. Bahkan dalam keluarga kyai jawa, anak-anak mereka mempunyai dua nama, yaitu nama jawa dan nama Islam, misalnya Paijo alias Wahab, Kasman alias Kholil dll. Kita sebut saja periode ini adalah gelombang pertama dari Islamisasi nama-nama di kalangan priyayi jawa. Pada gelombang pertama ini, nama Islam yang mereka gunakan biasanya menggunakan nama-nama tokoh seperti Muhammad, Ahmad, Husain, Hasan, Asiah, Kafsah, Fatimah dll. Atau nama yang diambil dari sifat Alloh yang 99 itu seperti, Kholil, Rahman, Lathif, Tamyiz dll. Baru kemudian di penghujung abad -20 --sejarah seperti berulang – seiring dengan munculnya Pan-Islamisme ala ICMI, maka di Indonesia mulai ngetrend dengan nama-nama Islam atau arab yang mulai agak modern. Ini bisa kita sebut gelombang kedua Islamisasi nama-nama. Pada gelombang kedua ini biasanya, nama-nama tokoh Islam pada gelombang pertama tetap dipertahankan tapi dibumbuhi dengan akhiran yang lebih trendy. Atau nama-nama ilmuwan muslim terkemuka abad pertengahan mulai menggantikan nama-nama sebelumnya, sehingga lahirlah nama Farabi, Sina, Rumi, Al Ghazali dll. Atau nama-nama yang diambil dari kata dalam Al Qur’an, diantara kata yang paling sering digunakan adalah kata Salsabila........Sehingga jangan heran pada periode ini, nama orang tua akan berbeda 180 serajat dengan nama anaknya. Misalnya, ayahnya bernama Haryanto, ibunya bernama Sriyati, tapi anaknya bernama Farah, Nabila atau Sabil, Reza dll. misalnya. Komposisi yang unik dalam satu keluarga. Tidak ada benang merah antara nama anak dan nama orang tua. Begitulah nama-nama kita. Beragam rupanya. Sedari dulu Bakul sangat tertarik dengan perkembangan nama-nama ini. Tulisan yang Bakul muat ini baru membahas nama-nama yang trend di kota-kota, khususnya di Jawa. Kalau membahas nama-nama di Sumatra, khsuusnya Padang, akan lebih seru lagi.....juga di Sulawesi Selatan dan Tengah, tak heran di daerah-daerah itu banyak terdapat nama-nama jawa, seperti Agus, Rusmanto dll. Lain kesempatan, Bakul akan mencoba membincangkan ini, terutama tentang nama Bakul sendiri Erwien – Kusuma, yang entah apa artinya, dan dari mana inspirasinya.....nanti akan Bakul kupas!
Posted by erwien on Nov 24, '08 8:44 PM for everyone  Dahulu, ada sindiran nyinyir tentang dunia pariwisata kita. Apa itu? Dunia pariwisata hanya menawarkan “tiga eS”, yaitu Sun, Sands and Sex..... apa benar begitu? Benar atau tidak, ada tak ada, jejaknya masih terasa. Dua hari di Kuta, Bali, hanya dua hari-dua malam Bakul dapat merasakannya. Kuta yang relatif sepi, semenjak teror bom yang membuat nama Amrozi cs menjadi momok dengan sebenar-benarnya, nama yang mengingatkan orang-orang Kuta kepada ketakutan, kematian. Tapi, Kuta tak berhenti begitu saja. Ia masih berdenyut, pesona terik Matahari yang menyengat, menghitamkan kulit tubuh dan kemudian terbenamnya ia di senja hari, membuat denyut itu tetap ada, meski tertatih. Lalu, pantai Kuta yang lembut nan menawan, membuat tapak kaki enggan beranjak, membuat tubuh serasa dimanjakan oleh sepoih angin yang membawa aroma arak Bali, wuih.... itu juga yang tetap membuat Kuta tetap berdenyut. Lalu, kulit (musyammas) hitam langsat muda-mudi Kuta yang eksotis bagi gadis-gadis seberang, dan gadis Bali yang menawan, cantik Indonesia yang purba -- mengingatkan kita kepada leluhur --gadis Majapahit-- senyumannya tak terlupakan......tentu saja itu adalah daya tarik yang juga membuat Kuta tetap berdenyut. Sekarang, apakah hanya itu saja yang tersisa? Sun, Sands and Sex! Apakah hanya itu saja? Beberapa hari yang lalu Bakul menuju ke pedalaman Ubud. Di antara pemandangan pura-pura mitis Bali, di tengah-tengah sejuk pemandangan Ubud yang hening, duduk seorang guru dari seberang yang membawa ajaran yang menyejukkan........ duduk bersamanya beberapa murid yang mencari kedamaian, kebahagiaan. Murid-murid itu juga datang dari seberang.....murid-murid itu sama juga dengan mereka yang bertebaran terlelap dalam denyut Kuta.....hanya saja mereka tampak berbeda, tak lagi mencari Sun, Sands and Sex....tak lagi mencari itu. Dari percakapan mereka, Bakul menyimpulkan mereka tampaknya sedang mencari Soul and Spirit.....mencari jiwa mencari spiritualitas yang ada dan tiada dalam kehidupan kita hari-hari ini. Dahulu dan Sekarang telah berbeda. Apakah benar seperti itu? Beberapa jam berikutnya, Bakul berada di tengah kerumunan massa. Orang Bali, touris asing duduk dalam keheningan yang sama, khusyu’ dalam balutan baju yang serupa. Ingin bebas dari dahaga yang sama, dahaga jiwa dan spiritualitas. Untuk beberapa jam, sang guru membuka khotbahnya, menuntun dalam do’a lalu mempungkasinya dalam bahagia yang sama! Semua berpelukan, semua tersenyum indah, dan larut dalam alunan adrenalin musik yang menghentak! Di sela-sela itu, Bakul menyaksikan ada yang masih tetap berdo’a, saling mendo’akan, tak penting bagi mereka apa warna kulitnya, apa warna binar matanya, serta bagaimana kata yang terucap dari tetelor lidahnya, itu semua tak penting bagi mereka. Semua menjadi sama, larut dalam Soul and Spirit yang sama. Dahulu dan Sekarang akan menjadi sama. Jika ternyata, kelak nantinya ajaran sang guru yang menawarkan Soul and Spirit itu dapat diterjemahkan dalam suatu ajaran yang universal, ajaran yang tak mengenal beda agama, tak mengenal pilah-memilah ajaran kitab suci..........Bila itu terjadi, maka bukan tak mungkin jika Bali akan menjadi Sriwijaya baru -- di masa lampau sohor dengan perguruan Budha Nalanda -- Bila itu terjadi, bukan tak mungkin Bali akan menjadi pusat ziarah spiritual yang baru bagi dunia? Alam yang mempesona adalah teater megah bagi denyut pengembaraan jiwa dan spiritualitas itu....... Alam Bali yang mempesona adalah tempat yang tepat untuk menyemai damai dan cinta bagi semesta. Bukan tak mungkin, jika itu terjadi, maka perjalanan ziarah ke Makkah, Madinah, Yerussalem, Vatikan, akan bergeser menuju Bali, pulau Dewata, nusa jiwa dan spiritualitas. Maka dengan begitu sebagai do’a Bakul akan menyeru : ke Bali, ke Bali, ke Bali. Bahagia dan Cinta yang Kau cari......... Posted by erwien on Nov 17, '08 1:01 AM for everyone Aku, Bakul sudah lama tak berdo'a untuk Emak. siapakah gerangan ia? ia adalah nenek Bakul, ibunda dari ayah Bakul. meskipun begitu, sampai akhir hayatnya, kami memanggilnya "emak". mengikuti cara anak semata wayangnya memanggilnya....."emak". emak sendiri berarti ibu. Aku, Bakul sudah lama tak berdo'a untuk Emak. tapi ku kira Tuhan pun tau, bahwa di setiap do'aku, yang terucap dan tak, selalu ada namanya, nama Emak, juga nama para leluhurku....Aku yakin Tuhan mengerti itu. do'a yang terucap dan yang tak, selalu terselip untuk emak. Aku, Bakul sudah lama tak berdo'a untuk Emak. tapi jangan khawatir, perasaan Bakul selalu berkata, bahwa Emak tetap menyaksikan Bakul, sepak terjang cucunya yang paling jauh terbuang ini, tetap diperhatikannya dari alam sana. itulah yang mendarah dalam rasa Bakul..... Lalu mengingat Emak.....Bakul menerawang, kapan kiranya aku terakhir kali bertemu emak? sudah lama sekali, hingga tak terekam lagi. sungguh Bakul lupa, --oh betapa laknatnya aku......melupakan kapan terakhir bertemu dengan mu --.......Tepatnya Tahun 1994 atau 1995, Bakul mendapat berita bahwa emak telah tiada. ia telah pergi meninggalkan keluarga, meninggalkan anak semata wayang-nya...yang tak pernah terpisah dari lahir hingga beranjak tua.Tapi....keduanya harus berpisah,saat Tuhan berkehendak memanggil keduanya dengan cara berbeda. Waktu itu ayah Bakul berangkat haji, memenuhi panggilan Tuhan, dan di hari-hari terakhir itu....Tuhan pun memanggil sang ibu.....oh alangkah indahnya, Tuhan memisahkan keduanya dengan panggilannya, panggilan yang berbeda, satu panggilan bertamu ke bait-Nya, dan satu panggilan bertemu ke hadirat-Nya......oh alangkah indah. kisah pertemuan dan perpisahan ibu dan anaknya yang sungguh indah..... Lalu mengingat Emak.....Bakul ingat masa kecil. bagaimana emak dengan sabar menunggui Bakul belajar saban sore. tidak hanya pelajaran sekolah, mengaji pun emak sungguh memperhatikan sampai dimana kemampuan Bakul. Suatu ketika Emak berujar, --jadilah kamu anak yang pintar, sekolah sampai tinggi....biar kelak kamu dapat naik pesawat terbang--.Bakul kecil pun menjawab, --iya. pasti aku kelak dapat naik pesawat terbang, dan saat itu emak pasti sudah tiada--. lalu dengan jenaka emak menjawab --tak apa, tapi ingatlah aku akan ada di sayap pesawat, mengikuti kemana pun kamu pergi--.maka beberapa belas tahun kemudian ketika Bakul menaiki pesawat untuk pertama kali. maka yang aku lihat untuk pertama kali adalah kaca jendela pesawat, kalau-kalau Emak benar-benar ada bertengger di sayap pesawat, pikirku.konyol, jenaka, tapi percakapan itu tak akan pernah Bakul lupakan, Emak. Lalu mengingat Emak. Bakul menuliskan ini. dengan harapan Emak juga membacanya dari alam sana. tulisan ini adalah do'a buat mu, Emak. Posted by erwien on Nov 10, '08 5:17 AM for everyone  saya bukan pengikut kejawen, ato pengikut ajaran Islam yang nggak jelas. tapi ingatan di kala kecil terkadang cukup membekas di benak Bakul hingga saat ini. apa contohnya? tanda-tanda kematian misalnya. tentang satu hal ini, Bakul punya banyak catatan yang membekas dalam ingatan. seperti.....orang mati yang disholati, diziarahi lalu dihantarkan oleh lebih dari empat puluh orang, katanya, itu adalah tanda-tanda ia orang baik, dan surga adalah tujuan akhir kematiannya.benarkah? tak penting rasanya. surga dan neraka adalah urusan Tuhan, dan baik buruk perilaku seseorang terkadang cukup dapat kita lihat dalam kisah hidupnya sehari-hari, hal itu melekat dalam ingatan orang banyak, ya kebaikan sama halnya dengan keburukan, selalu terkenang dalam ingatan manusia, dan sifat di tengah-tengahnya, mungkin mudah dilupakan oleh manusia.tak membekas...... Saya ingat, ada satu kawan saya dahulu, Endai. almarhum adalah teman, boleh dibilang senior Bakul dahulu di kampus. ia mati muda. selama Bakul mengenangnya adalah Endai seorang aktivis, teman baik bagi teman-teman yang mengelilinginya, setia kawan. soal religiusitas? tak taulah saya. apakah ia sholat, rajin mengaji atau bagaimana saya tak mengetehaui dengan pasti. sedang yang pasti bagi saya adalah almarhum, sama dengan Bakul, kurang sepaham bahkan bisa dibilang anti dengan sepak terjang Islam Fundamental di kampus. dan yang pasti bagi saya, adalah teman-temannya adalah komunitas aktivis yang akrab dengan unjuk ciu, mabok bareng, ngisep dodol Aceh, nenggak bir menguji kejujuran.......almarhum akrab dengan komunitas sermacam itu.....lalu suatu saat Bakul mendengar Endai sakit, terbaring dengan sakit yang lumayan gawat dan akhirnya merenggut nyawanya. dan ia, sekali lagi, mati muda. konon ceritanya, menjelang menemui ajalnya almarhum mulai sholat. seoramg teman sejawat, Dewi, bercerita kepada saya, jika almarhum pernah meminta kepadanya jam beker untuk diletakkan di kamar inap di RS, untuk mengetahui waktu sholat, pinta Endai kepadanya. dan ketika ia mati.......banyak orang, banyak orang, dengan tulus kehilangan, yang kenal baik dan tak kenal baik sekalipun pada datang, ta'ziah kepada jenazah, mengantarkan almarhum hingga liang kubur, dan banyak tetamu yang hadir itu turut mensholati Endai.......bahkan mereka adalah orang-orang sekuler yang abai terhadap ibadah sholat, tapi untuk mendo'akan Endai, mereka rela mengambil air wudhu' yang mungkin lama tak disentuhnya, mereka rela berdiri sholat yang mungkin lama tak mereka dirikan....indah sekali. saya sempat tertegun, dan berujar dalam hati, Oh Tuhan, mulia sekali engkau, telah memuliakan Endai di akhir hayatnya, dengan hantaran orang-orang yang merasa kehilangan.......Endai masuk surga? lalu, malam kemarin. trio bomber Bali I telah dieksekusi (9 November dinihari). Amrozi-Imam Samudra-Ali Ghufron telah menemui ajalnya. dan semua stasiun meliput detik demi detik kepergian tiga orang itu. sampai-sampai porsi peringatan hari Pahlawan pun kalah dengan berita kematian mereka. kembali, Bakul melihat iring2an massa yang menunggu ketiga jenazah di tempat masing-masing. pekik takbir terdengar di mana-mana, gegap gempita menyongsong ketiganya. mereka meyakini bahwa mati mereka adalah mati syahid, yakin bahwa mereka adalah tiga syuhada' yang mati dalam jalan jihad........ iring-iringan orang begitu banyak (tentunya bercampur dengan penonton, wartawan media, dan polisi pengaman)....mereka berarak, mensholati lalu menghantarkan jenazahnya ke liang kubur. Bakul bergumam, pemandangan itu telah memenuhi syarat sebagai tanda-tanda orang baik, tanda-tanda masuk surga? demikian kah? setelah apa yang mereka perbuat kepada korban-korban bomnya?benarkah? apakah tanda-tanda yang Bakul pahami itu, terpatri dalam benak Bakul, seakurat sebagaimana mustinya?benarkah?benarkah? ya Tuhan apakah aku salah menilai? mungkin hanya engkau yang berhak memberi tanda-tanda dan hanya engkau pula yang berhak menilai tanda-tanda itu? apapun, melalui tulisan ini saya hendak berkirim alfatihah untuk mereka, juga untuk teman saya Endai, almarhum. Posted by erwien on Oct 30, '08 10:37 PM for everyone malam-malam ini, Bakul mengikuti berita TV yang sedang menunggu detik-detik eksekusi bomber Bali I. ada beberapa stasiun TV yang coba menyampaikan kepada pemirsa, bagaimana sepak terjang Amrozi dan bradernya, serta Imam Samudra......dalam beberapa reportase Bakul cukup geram dengan keduanya. menggelengkan kepala, entah chip apa yang tertanan di pikiran mereka sehingga bisa menjadi seperti itu...menjadi yakin seyakin-yakinnya bahwa "jalan bom" itu adalah jalan yang akan membawa mereka ke surga! lebih tertegun lagi, ketika Imam Samudra yang tak henti-henti menyelipkan khabar kebenciannya kepada hukum kafir, orang kafir, telah tumbuh dalam dirinya sejak kecil. ia mencontohkan tindakannya melempar gereja pada masa kecil adalah wujud nyata dari kebenciannya kepada kafir. dengan cerita ini Bakul, teringat diri sendiri pada masa kecil. bagaimana Bakul sangat benci kepada perjudian, mabuk-mabukan......dan wujud nyata dari kebencian itu adalah dengan menyobek pengumuman nomor judi PORKAS, KSOB atau SDSB (judi legal) yang biasa ditempelkan oleh sang bandar di dinding rumahnya! pada tayangan TV lainnya digambarkan bagaimana Amrozi dan bradernya itu bak pasangan duo pelawak Lesus dan Topan, yang ngelawak tentang tata cara eksekusi mereka. intinya, dengan jenaka (atau sikap meremehkan) mereka sampaikan bahwa cara apapun akan mereka laksanakan, mereka menerima pasrah terhadap hukuman mati, meski tak pernah mengakui hukum itu sendiri, tak mau mengakui sistem Toghut yang menghukum mereka....... bagi Bakul, terserah saja apa yang terbersit dalam benak mereka. bahkan jika mereka menganggap bahwa kita semua di luar mereka adalah toghut, kafir yang harus dimusnahkan, ya terserah.....tapi setidaknya, rasa sesal sebagai manusia yang telah menjadi bomber bagi nyawa yang tak berdosa itu tampak dalam wajah-wajah mereka. Bakul cuman berguman :"kalau memang kita semua toghut dan kafir, maka sia-sia saja nabi Muhammad dulu berdakwah, karena umat Islam ternyata hanyalah sebatas Amrozi-Imam Samudra cs....." tentu tidak demikian bukan? dan terakhir Bakul berdo'a semoga di akhir hayatnya, mereka diberi taubat, diberi sedikit sesal dalam hatinya, yang telah menanggalkan nyawa tak berdosa, menyisahkan perih bagi beberapa orang lainnya, menyesal-lah, menyesal-lah, menyesal-lah setidaknya itu itikad awal untuk bertobat.... Oh Amrozi.... Oh Imam Samudra....taubat! Posted by erwien on Oct 23, '08 1:11 AM for everyone |  | Oktober ini, Bakul disibukkan dengan penyusunan film dokumenter.berikut beberapa photonya.... |
Posted by erwien on Oct 6, '08 3:05 AM for everyone Namanya unik, dari dahulu hingga sekarang, jika Bakul berkenalan dan menyebutkan nama kampong halaman itu, orang lantas menukas “oh, sayuran? banyak sayurannya ya?” dan Bakul bingung jawabnya, jadi nyengir saja untuk mengambangkan antara iya dan tidak. Tidak tahu nama itu bermaksud apa? Menandakan apa? Menunjukkan kepada masa lalu yang bagaimana? Yang jelas pas Bakul kecil hingga saat ini tak ada banyak sayuran di kampong Bakul. Maka untuk amannya terkadang, Bakul mengatakan bahwa Bakul berasal dari “kampong tembok”, karena memang ada dua nama “tembok” yang lebih terkenal di wilayah Surabaya, yaitu Tembok Dukuh, kampung sebelah Tembok Sayuran, merupakan kampung halaman Bung Tomo yang melegenda itu. Kemudian ada Pasar Tembok plus Kuburan Tembok yang memang sudah sangat tua itu. Dapat dikatakan, kedua nama itu lebih terkenal dibandingkan dengan Tembok Sayuran! Lalu bagaimana dengan Tembok Sayuran? sejak dahulu keluarga (tiga generasi ke atas, bapak-mbah-buyut-mbahbuyut-)Bakul tinggal di wilayah ini. Menurut almarhumah nenek (emak) Bakul, keluarga kami berasal dari Solo, sehingga tak heran di keluarga kami, bahasa jawa kromo inggil masih menyisa, tak tergerus dengan bahasa jawa ngoko khas suroboyoan! Tapi rasanya tradisi Jawa yang ke solo-solo-an (abangan) ini kemudian bercampur dengan tradisi santri Jawa Timuran. Lagi-lagi menurut emak Bakul, dahulu kakeknya adalah kyai kampong yang pertama kali datang menetap di Tembok Sayuran, sebutlah Kyai Arti, namanya, punya anak mantu bernama Kasan yang menikah dengan Arti Muna (ibu emak Bakul). Nah, mbah kyai Arti itulah yang membuka langgar (surau) pertama di Tembok Sayuran, yang saat ini telah berubah menjadi musholla Nurul Ahdlor, tempat Bakul biasa berjama’ah di kampung halaman. Langgar ini didirikan oleh buyut Bakul itu karena pada waktu petang, saat sholat Magrib, banyak orang yang singgah di kampung Tembok Sayuran sepulang dari pacuan kuda yang letaknya tak jauh dari kampung. Sejauh Bakul mulai mengingat tak ada tanda-tanda sayuran sama sekali di kampong Bakul, yang ada hanya beberapa keluarga induk yang telah menetap puluhan tahun, yang bisa dikatakan sebagai warga asli Sayuran, termasuk keluarga orang tua Bakul, yang keduanya adalah keluarga besar yang dapat dibilang aseli tembok Sayuran (hanya saja keluarga dari pihak ayah Bakul lebih tua dan lebih aseli sayuran daripada keluarga ibu Bakul). Banyak diantara anak-anak keluarga ini melakukan kawin kamawin satu sama lain, sehingga pertalian keluarga semangkin rumit, dari pintu ke pintu adalah keluarga. Kanan keluarga, kiri keluarga, depan-belakang adalah keluarga. Jadi pacaran dan berantem pun juga masih dengan keluarga. Hingga saat ini hampir seluruh isi kampung Tembok Sayuran gg. II adalah keluarga besar Bakul, baik dari pihak bapak maupun ibu..... Selain itu beberapa warga aseli Tembok Sayuran diantaranya adalah etnis Cina, atau peranakan dari gundik Cina. Pada waktu itu terasa aneh bagi mata Bakul, ketika melihat di dinding tetangga, terdapat potret sosok pria Cina setengah baya bersanding dengan wanita muda, yang Bakul kenal sebagai pemilik rumah di waktu muda. Lantas Bakul berpikir, “oh, Bude ini suaminya dulu orang Cina......” Tersebutlah nama-nama peranakan ini seperti Bude Ah, Bude Wara, Om Juan, Ameh lalu anak-anaknya bernama Gioklan, Konggi, Singgih, Aiyu, Liong, Jingok, dll. Nama-nama itu hingga kini masih ada dan beredar. Jadi unik juga keluarga-keluarga peranakan di Tembok Sayuran ini, rata-rata wajah mereka meski satu keluarga relatif beragam, misal adiknya yang perempuan berwajah jawa, tapi kakaknya yang laki itu dah Cuinaaa banget, ato sebaliknya. Agamanya pun juga beragam, ada yang ikut agama bapaknya jadi Konghucu atau Kristen. Ada juga yang ikut agama ibunya, menjadi Islam. Dan hingga sekarang warga peranakan ini tatkala lebaran tiba, mereka juga ikutan bersedekah ke Musholla sebagaimana layaknya warga muslim membayar zakat fitrah, lalu esko paginya mereka ikutan juga unjung-unjung, berma’af-ma’afan berbaur dengan warga yang lainnya. Tembok Sayuran gg. II, kampong Bakul boleh jadi adalah kampong yang paling komunal, dan hubungan warganya paling kompleks dibanding dengan kampong Sayuran gg. I atau Sayuran Barat misalnya. Tembok Sayuran I adalah jalan yang lebih luas dan menghubungkan jalan Tidar ke arah jalan Demak, Pasar Turi kemudian ke pelabuhan. Gang (lorong) ini tentu saja banyak dilalui kendaraan bermotor, walhasil hubungan warganya agak renggang.....sedang Sayuran Barat terpisah oleh pabrik-pabrik, jauh sekali dahulu antara Sayuran Barat dan sayuran II terdapat pabrik paku, pabrik kaos dan pabrik pasta gigi Prodent. Maka, kampung ini nyaris terisolasi dengan kampung Sayuran lainnya. Ada satu kampung lagi, yaitu Tembok Sayuran gang Mei, mungkin didirkkan pada bulan Mei, disini banyak warga pendatang, banyak rumah kontrakan, karena sebenarnya kampung ini didirikan di atas selokan besar yang ditutup dengan cor-coran yang kemudian menjadi jalan kampung itu.....Bakul kurang paham dengan kampung yang satu ini. Yang paling unik dari kampung Bakul adalah, adanya tikungan dalam kampung, sehingga Tembok Sayuran II tampak seperti gang buntu baik dari arah jalan Tidar (mulut gang di Selatan/kidul) maupun dari arah jalan Kalibutuh (mulut gang di Utara/lor). Dan tikungan ini pula dengan sendirinya seakan menjadi batasan tabiat dari warga kampung Tembok Sayuran II, warga penduduk aseli yang kebanyakan berada di bagian utara/lor, terkenal lebih komunal, lebih egaliter, senang cangkruk, gemar bergunjing, usil dan beberapa tabiat khas warga kampung kebanyakan. Sedangkan bagian selatan/kidul kampung kebanyakan dihuni oleh warga pendatang, meskipun ada juga keluarag aseli, termasuk keluarga emak Bakul yang kebetulan mempunyai rumah di bagian Kidul ini, setelah sebelumnya tinggal bersama di rumah induk keluarga yang terletak persis di mulut gang bagian Lor, dekat dengan langgar (musholla).... Nah, Bakul pernah tinggal di kedua bagian kampung ini. Sejak lahir hingga kelas 2 SD, Bakul tinggal di bagian lor kampung, rumah Bakul persis di mulut gang, ayah Bakul saat itu telah menjadi RT semenjak tahun 1967! Kemudian setelah itu, hingga hari ini Bakul tinggal di bagian kidul kampung Tembok Sayuran! Hari ini banyak yang berubah. Masuk tahun 90-an dan kemudian 2000-an banyak perubahan yang terjadi. Orang aseli Tembok Sayuran banyak yang pindah, mengikuti anaknya yang telah eksodus ke wilayah lain, atau lanjut usia dan kemudian mati. Sekarang banyak warga pendatang, yang dahulu mulanya tinggal di rumah kontrakan, kini muncul sebagai warga aseli baru yang mempunyai kehidupan ekonomi yang lebih baik. Rata-rata mereka lebih bekerja keras, lebih hemat, dan tidak hidup dengan gengsi dibanding dengan penduduk aseli. Sama dengan kebanyakan kampung di Jakarta, urbanisasi secara perlahan telah menggusur dominasi warga aseli dari kampung-kampungnya sendiri. Dan rasanya Tembok Sayuran ku, kampung ku juga secara perlahan akan menjadi seperti itu........kini lebaran tak seramai dulu lagi, biasanya dahulu kala kampung Tembok Sayuran adalah kampung yang sebenar-benarnya, tak ada warga yang mudik, tak ada yang pulang ke desa, karena kami tak punya desa lain, desa kami adalah Tembok Sayuran! Tapi tidak hari ini, semua berubah.... Tapi, bagaimanapun saya, Bakul, akan tetap kangen dengan kampung ini, merindukan kampung ini, rindu masa lalu, sendau guraunya, banjirnya, permainan anaknya, pate lele, dum bungkem, bak sodor. Kangen dengan bakso Mak Mun yang khas di TK Tribina, kangen dengan pecel bali endog Wak Inem yang mantap yang menyembuhkan Bakul kecil dari sakit malas dan meriang! Kangen orang-orang tua yang mendongeng tentang Kuntil Anak di mulut gang kidul, pocong di rumah Mbah Sagina, Jerangkong yang merangkak di tikungan hingga menghilang di tengah gang! Itu semua yang Bakul rindukan...... Posted by erwien on Oct 6, '08 12:01 AM for everyone  Sabtu, 27 September yang lalu, Bakul bersama istri, mudik lebaran ke kampong halaman Bakul di Surabaya, juga Bangkalan, Madura, kampong halaman istri Bakul. Mudik kali ini Bakul “terpaksa” menggunakan bus malam, Kramat Djati, harga tiket 350 ribu, harga lebaran, di hari biasa tiket bus malam ini cuman 175 ribu, jadi naek dua kali lipat! Terpaksa, karena tiket kereta Argo yang biasa Bakul tumpangi setiap kali pulang kampong ludes terjual sebulan sebelum hari lebaran! Padahal tiket kereta ini juga tak kalah mahal, 400 ribu! Pada hari biasa tiket kereta kelas eksekutif ini cuman 220 ribu! Apa sebab yang menjadikan tiket kereta ludes? Karena pada mudik kali ini para mudikers banyak berpaling dari pesawat, yang dahulu murah! Sekarang untuk ke Surabaya, sangat jarang ada pesawat yang banting tiket seharga 800 ribu, hamper rata-rata di atas satu juta. Padahal tahun lalu tiket pesawat ke Surabaya mungkin masih seharga 600 ribu! Ada juga yang 400 ribu! Juga ada yang 200 ribu! Tapi mesennya jauh hari, bahkan jauh bulan, dan siap-siap didelay pada hari H ke jadwal dinihari! Mungkin karena bnayak maskapai yang mulai berbenah, takut pesawatnya jatuh, maka mereka mulai membenahi penerbangan dengan cara menaikkan biaya perjalanan yang harus ditanggung penumpang! Tapi sudahlah, itu pesawat, Bakul tak begitu ngerti pulitiknya. Tapi kalu yang untuk bus ini, meski gak begitu ngerti juga, tapi Bakul merasakan….. Betapa tiket bus malam yang mahal itu tak mampu memberi kenyamanan bagi perjalanan mudik lebaran. Sepanjang perjalanan Bakul menggerutu, macet dari tol Cikampek hingga Semarang! Belum lagi kualitas jalan pantura yang sudah sangat menurun, kasar, tak lagi mulus, sehingga suspensi bus pun tak mampu menahan geronjalan selama bus melaju di atas aspal jalan Daendels itu…… Oh, sepanjang perjalanan Bakul merenung, kenapa ini? Sungguh bodoh bangsa kita ini, setelah merdeka beberapa puluh tahun, tak juga mampu menambah infrastrukturnya? Waduk masih punya moyang kumpeni! Kanal banjir juga sama, jalan raya juga setali tiga uang! Podo wae, masih jalan Daendels, masih jalan raya pos! Cuman diubah namanya jadi Jalur Pantura! Oh, ternyata kita hnaya mampu mengubah nama saja. Tak mampu menambah ato mencipta sesuatu yang baru. Kita hanya mampu mengubah “kemelaratan” menjadi “kemiskinan”, “kesengsaraan” menjadi “penderitaan”, “penjajahan” menjadi “penindasan”, “keterbelakangan” menjadi “kemunduran”. Kita cuman mampu begitu. Pantas aja, tiket bus jadi mahal! Lha wong bus sebesar ini harus antri sepanjang belasan kilo meter dengan asap yang terus ngepul, maka biaya solarnya jadi dua kali lipat dibanding saat lancer. Sopir dan kenek bus juga harus kerja ekstra, melek selama 18-22 jam! Dibanding pada hari biasa hanya 9-12 jam! Maka, mereka butuh uang ekstra untuk pengganjal mata ini! Dan semua itu yang harus menanggung adalah penumpang! Penumpang yang nanggung naeknya biaya ini itu, nanggung kebelet pipis juga pub, nanggung pantat yang terasa tebal lalu seakan menghilang tak berpantat, karena kelamaan duduk! Dan THR yang diberikan pemerintah itu, atau sebagai kebijakan pemerintah itu nyaris habis ato menyedot porsi yang lebih banyak untuk menanggung kebodohan pemerintah ini. Maka zaman ini yang cucok adalah jargon „Dari Pemerintah Untuk Pemerintah!“ tak ada lagi jargon „Dari Rakyat Untuk Rakyat!“ tak ada itu tak ada...... tak ada itu jalan yang baru, jalur baru, tak ada itu tak ada.....sampai kapan??????? Posted by erwien on Oct 5, '08 10:55 PM for everyone |  | Mudik adalah maaf Mudik adalah makan dua menu yang membekas pas mudik kemaren. rujak cingur dan sate kelopo. |
Posted by erwien on Sep 16, '08 10:10 PM for everyone Bakul tak terlalu ngeh dengan peristiwa di Pasuruan itu. Semua bereaksi, MUI mengharamkan harta zakat pak Haji, anak-anak SD berdoa bersama, dan pak jenggot menyeru agar zakat melalui Baziz saja! hmmmm Cuman semalam ada yang menyentuh hati "nggak, aku gak mau nyawa ibuku diganti dengan uang...!" begitu ucap seorang anak perempuan di sela isak tangisnya. mendengarkan itu, hati ini tersayat, pilu rasanya. oh......Indonesia bak negeri dongeng! tapi sayang bukan dongeng keindahan, tapi dongeng kemelaratan! betapa tak menyesakkan, kuis seharga dua juta diumbar saban pagi di TV kita, para selebritis berlomba mengikuti paket caleg dan capem milyaran perak di berbagai daerah, sementara di wilayah yang hanya beberapa centi meter saja berjarak di atas peta, banyak insan renta, berkalang tanah, menyabung nyawa deni 20 ribu perak! oi..............bila tak kuat aku bisa menjelma menjadi atheis! oi......Tuhaaaaannnnnn, alim laam miim, yaa siin, haa miim, kaaaf haaa' yaaa' ain shooot.......aku menyeru kepadamu Tuhan......menyeru, mencari Mu.... dimanakah akal sehat ku, tak hanya tukang nasi goreng Pancoran yang alim saja yang ingin kembali menjadi PKI, bahkan aku juga! merasa sakit menerima keadaan ini, hidup dalam belenggu kepengecutan, jiwa yang kerdil, takut melarat, takut kehilangan pekerjaan, takut dan takut tak berbuat apa-apa, lalu satu demi satu hal yang memilukan, seolah menyela "heh kamu ngapain aja?" "tuh masih banyak orang miskin kelaparan, masih banyak orang mau bertaruh nyawa untuk 20 ribu perak?" "kamu ngapain aja?" "mana tanggung jawab mu? mana syukur mu? mana zakat mu? mana derma mu?" "mana pengorbanan mu.....?" "mana???????????????????" Posted by erwien on Sep 9, '08 10:00 PM for everyone Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan dari Allah yang di atas sana. Selain itu, di negeri kita tercinta ini Ramadhan adalah bulan penuh tayangan TV. Pada bulan ini, semua kanal TV kita menyajikan tayangan 24 jam nonstop, menemani hari-hari kita, menemani ibadah kita, begitu ujar para presenter program di TV kita. Pada Ramadhan ini, kebetulan adalah bulan puasa yang pertama bagi Bakul untuk melaluinya bersama istri tercinta. Pada petang magrib, biasanya Bakul dan istri nonton acara sitkom “Suami-suami Takut istri” sambil berbuka puasa. Nah, sebelum itu biasanya beberapa menit menjelang azan magrib, sekilas Bakul tertarik untuk melihat penampilan para ustadz-ustadz nusantara! Ada yang tampil dengan serius, tegang, melankolis seperti Arifin Ilham, penmapilannya dibebet uniform surban ala Pangeran Diponegoro! Ada juga yang bertampang jadul masih formal seperti era 90-an, ada juga yang menggunakan nama-nama arab nggak jelas, seperti ust. Abu........ pokoknya siapa gitu?. Ato ada juga yang bernama S..... al Bughury! Tak lupa sedikit jenggot rapih menghiasi wajah, Wah, arab sekaleee.....Tapi ada juga yang tampil santai, rambut klimis, struktur bahasa terstruktur, baju koko modern, yang tampil di stasiun TV yang kalo malam juga nampilin adegan dugem yang gaol, dan geol-geol tentunya! Bentuk paling buncit ini cukup menarik perhatian Bakul, apa sebab? karena penmapilannya malah mirip pastur atau romo yang sedang melakukan dakwah zending! Begitulah TV kita, tidak hanya hitam puitih sekarang. Menjadi lebih warna-warni dalam arti yang sesungguhnya. TV saat ini bak keranjang besar atau tas shoping mal-mal dimana kita bisa meletakkan apa saja? Barang pribadi, benda sronok atau zat keramat yang kita suka! Urusan dunia dan akherat lebur menjadi satu dalam keranjang itu! Dan kita menentengnya setiap hari! Wah, betapa hebatnya manusia modern, betapa dahsyatnya kita sebagai manusia yang terlahir pada milenium ini? mampu meletakkan dunia dan akherat sekaligus dalam satu momen! Dalam satu keranjang seperti TV itu...... maka dari itukah, Tuhan tak perlu repot-repot untuk mengutus nabi-nabi baru, rasul-rasul baru, mesiah-mesiah baru, padahal berhalanya semangkin banyak loh? Apa sebab? karena kita manusia kaliber! Mampu mengatasi itu semua tanpa nabi-nabi, sekarang ini massanger hanya cukup dibutuhkan untuk perkantoran sebagai pesuruh! hehehehehehehe (yang belakang ini Bakul ngawur) Kembali kepada TV, saat sahur juga menarik bagi Bakul. Dan TV selalu hadir menemani sahur kita. Kalu jaman Bakul kecil dulu, sahur adalah saat yang syahdu.....hanya ada suara sayup-sayup dari corong ringkih langgar melantunkan ayat suci, ato sholawat yang mengalir dengan ngungun karena berasal dari mulut tanpa gigi alias ompong! Sahur zaman dulu adalah sahur dengan nasi putih yang terkadang telah mendingin sebab tak ada rice cooker atau magic com seperti saat ini! lalu muncul TV dan semuanya berubah. Tapi jangan salah, dahulu pertama kali muncul TV masih sopan-sopan lho, muncul tayangan tapi pak Ustadz yang muncul bersama presenter ganteng ato cantik. Waktu itu biasanya Bakul berseloroh, waduh hebat nih ustadz-ustadz, kapan sahurnya ya? Berarti mereka sahurnya lebih malam daripada kita ya mbak? Aku aja sahur jam setengah empat masih kelaparan apalagi mereka yang sahur jam setengah tiga pagi! Begitu biasanya tanya Bakul kepada kakak perempuan Bakul yang males nanggepin. Nah menjelang imsak baru tuh ada kuis yang benar-benar kuis.....karena pertanyaannya susah! Tapi biasanya pada sesi ini Bakul sekeluarga dah pada antri sikat gigi persiapan imsak! Lama-lama TV makin ngelonjak. Kok rasanya sahur ditemani dengan ustadz-ustadz ini kok gak asyik ya.....maka muncullah selingan, yang kemudian menjadi pokok acara, yaitu para komedian atau pemusik yang mulai ikutan sahur bareng....... mulanya acara mereka terpisah, jadi ustadz nggak nyampur dengan artis. Tapi tahun berikutnya lebih hebat lagi, ini adalah periode ustadz turun gunung, mereka mulai berbaur dengan artis, dan lama-lama karena ada ustadz mantan artis, atau gaul dengan artis, bahkan kawin dengan artis, maka jadilah mereka gak balik-balik lagi ke gunung, dan keenakan jadi artis. Ustadz adalah artis, artis terkadang adalah ustadz! Ustadz nyayi bareng ustadz, konser musik jingkrak-jingkrak juga ada ustadznya, bahkan sinetron pun dimainkan atau dipromosikan oleh ustadz! Maka benar lah pikir Bakul, kita tak perlu nabi lagi untuk mendakwai artis-artis itu, karena ustadz-ustadz yang pewaris nabi itu telah menjelma menjadi artis! Lalu siapa yang diseru? Embuhlah. Ngapain juga berseru, lha wong nggak punya materi untuk menyeru! Nah tahun ini berbeda lagi.... ustadz-ustadz sudah mulai berpisah lagi dengan komedian, pisah dari artis di waktu sahur, beberapa acara sahur di TV sudah tak lagi melibatkan peranan ustadz sama sekali. Meskipun masih ada satu dua yang begitu........ Begitulah TV kita, melahirkan ustadz-ustadz yang berjamuran, melahirkan komedian-komedian dadakan, lucu karena skrip, lucu karena nggak lucu. Tapi tak apa, yang penting TV belum menjadi nabi baru kita atau melahirkan nabi-nabi baru bagi kita! Ya toh?  Posted by erwien on Sep 8, '08 4:04 AM for everyone Awal Agustus ini, Bakul dengar, benar-benar hanya mendengar, jika salah satu tempat favorit Bakul di Jakarta, pasar buku bekas Kwitang, telah digusur dan dipindahkan ke komplek pasar inpres Senen lantai IV. Sayang sekali, entahlah. Bakul benar-benar tak menyimak berita ini, maklum saat itu Bakul lagi konsentrasi pada acara pernikahan. Hingga saat ini, Bakul juga belum berkunjung lagi ke Kwitang. Terakhir ke Kwitang adalah justru 2 atau 3 hari sebelum Bakul menikah. Hari itu, hari Selasa atau Rebo, pas hari libur nasional, Bakul berpikir kapan lagi akan jalan-jalan sendiri hunting buku, dengan tanpa berpikir akan budget yang akan dikeluarkan, bujangan ini. Sedang beberapa hari lagi Bakul akan menikah, so pasti hunting buku akan mulai dikurangi atau bahkan ditiadakan dulu sementara waktu, begitulah pikir Bakul pada saat itu. Jadi hari itu Bakul ngublek-ngublek Kwitang, hasilnya nihil. Kebetulan tak ada koleksi yang unik yang layak untuk dibeli. Bagi Bakul Kwitang adalah pilihan pertama untuk mencari buku dengan harga alternatif, bukan murah lho ya......tapi harga alternatif! Meskipun demikian, menurut perasaan Bakul akhir-akhir ini sudah sedikit sekali buku yang baik untuk dikoleksi yang tersedia di tempat ini. kalau lah ada pastilah mahal harganya (ada satu kios yang koleksinya bagus, tapi ya itu menyadari keunikan bukunya, ia pasang harga mahal!). Akhir-akhir ini Bakul lebih banyak melihat buku buku materi ajar kuliah atau pelajaran bajakan daripada buku bekas yang bermutu. Paling-paling di bagian tengah sesekali dijajakan satu dua buku bagus terbitan Gramedia, yang tentu saja dapat kita tembak setengah harga! Harga alternatif! Tapi ini jarang sekali. Yang paling banyak dan umum dijajakan adalah buku-buku obralan seharga 10 ribu yang dahulu seharga 5 ribu! Buku-buku ini menjemukan, temanya tak menarik, meskipun jika beruntung ada juga satu dua yang lumayan untuk dibaca. Buku-buku bekas yang unik saat ini menurt Bakul justru berada di beberapa kios buku yang tersebar di beberapa tempat, seperti kios buku bekas di pasar Mayestik, gudang buku di pasar festival, Kuningan, atau bahkan di emperan stasiun Tebet, Kalibata atau Pasar Minggu! Bahkan di terminal Senen justru ada satu kios yang menyediakan koleksi buku lawas lumayan top punya! Jadi Kwitang, biarlah menjadi kenangan. Toh, cuman pindah tempat kan? Nggak tau juga kalu nantinya perpindahan tempat ini menyebabkan semangkin naiknya harga yang ditawarkan, biasa ongkos sewa kiosnya kan jadi nambah pasca relokasi! Omong soal buku bekas ini, di kota kelahiran Bakul, Surabaya, ada contoh yang mungkin bisa ditiru oleh Pemprov DKI. Dahulu kios buku bekas, buku loak, di Surabaya ini berada di sepanjang jalan Semarang, deket Stasiun Pasar Turi, beberapa blok dari Lontong Balap Garuda. Jalan Semarang ini jalanan sempit, tapi untungnya tak bnegitu ramai, sehingga aktivitas jual beli buku loak ini tak mengganggu lalu lintas, di tambah lagi jumlah pedagangnya (kebanyakan etnis Madura, kalau di Jakarta etnis Padang atau Batak?) tak sebanyak seperti di Kwitang, Jakarta. Namun karena kios-kios reot mereka nempel di trotoar jalanan, dan tersebar tak beraturan di sela-sela toko mebel kayu, sehingga nampak berantakan. Pokoknya mata kita rungsep deh pokoknya kalau melewati jalan ini. Koleksi buku di jalan Semarang ini pun tak ajaib-ajaib amat, meski beberapa buku langkah Bakul dapat di tempat ini dengan harga murah, bukan harga alternatif! (pedagang buku loak di Surabaya terkadang tak tau bahwa bukunya sangat bernilai, langka didapat, baguskan?) Nah, waktu itu, April 2008, Bakul lewat ke jalan Semarang ini, setelah santap siang di Lontong Balap, Garuda, bakul naek becak (ongkos 5 ribu rupiah) menuju jalan Semarang......apa yang terjadi? Mencengangkan... Bakul hampir balik lagi, karena tak mendapati lagi pedagang buku loak di sepanjang jalan Semarang! Lalu kemana mereka? Tiba-tiba tukang becak yang membawa Bakul itu bertanya “sampean cari opo cak? Buku loak? Iku onok Kampong Ilmu, anyar......” Becak Bakul yang hampir melewati Stasiun tiba-tiba kembali dan membawa Bakul pada satu tempat di sebelah kiri jalan (dari arah Garuda, sebelah kanan dari arah Stasiun). Wah, Bakul terbelalak, di depan Bakul terhampar spanduk besar bertuliskan “Kampoeng Ilmu”. Bakul bergegas nafsu memburu apa kira-kira yang ada di dalamnya, maka terlihatlah pemandangan sebagaiman post photo-photo Bakul tentang Kampoeng Ilmu di bagian lain blog ini. Setelah mendapatkan beberapa buku loak yang oke punya, Bakul sempatkan berbincang dengan beberapa pedagang. Ceritanya, tempat jualan (kampoeng ilmu) itu adalah hasil dari aksi protes mereka kepada pemda Surabaya sesaat mereka akan digusur. Konon berkat advokasi dari beberapa mahasiswa kampus, akhirnya mereka mendapat jalan tengah, Walikota Surabaya, Bambang DH menjamin mereka untuk dapat menempati lahan kosong itu (tanah PJKA, mungkin) sebagai ganti penggusuran atas kios-kios mereka di sepanjang jalan Semarang. Pada saat Bakul ke sana, mereka masih menempati kios mereka secara gratis. Hingga nanti pemerintah akan membangun, menata ulang tempat tersebut, dengan kios-kios yang lebih baik, maka akan ditarik biaya sewa untuk pengelolaan Kampoeng Ilmu dengan iuran sesuai dengan kesepakatan para pedagang....... Gimana ?Kampoeng Ilmu Surabaya? Mantap tenan! Mak nyuus! Kalo kata Bondan Winarno. Maka, Bakul pikir demi kebaikan bersama, toh jual buku banyak manfaatnya buat masyarakat, asal bukan buku bajakan!, maka tak salah jika pemerintah melestarikan situs-situs pedagang buku loak ini agar terus bertahan! Kwitang, Contohlah Kampoeng Ilmu!  Posted by erwien on Sep 4, '08 11:47 PM for everyone |  | sebenarnya momen ini sudah cukup lama Bakul abadikan, ketika pada April 2008 yang lalu Bakul sempat mampir di Surabaya. untunglah akhirnya Surabaya, kota kelahiran Bakul, punya satu site yang menarik minat Bakul, yaitu buku loak! |
 |
hahahahaha tks yus... gua memang rada penggila masa lalu... |
 |
Wah, aku beberapa kali liat foto2 Gontor dan masa kecil - dewasa ente, so nostalgic... |
 |
Ane udah invite, tolong diapprove yo :) Suwun |
 |
Gimana rasanya menikah, Wien? Udah ketemu tulang rusuk yang ilang?:) |
 |
"lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". Kunjungi www.alfannymovement.blogspot.com dan www.alfannynu.multiply.com |
 |
Kabar baik2 bos. Ya mohon doa aja lah hehehehe. Ngomong2 contact request gw d approve dong..... |
 |
hahaha gintings pa kabar? bisa aja lu......baik2 di negeri orang Bos! lu harus bisa bermanfaat buat orang banyak di masa depan! hahahahaha gud lak! |
 |
Aduh ampun beribu ampun gusti. Blognya hebat euy, masih menjunjung tinggi karya akademis dengan catatan kaki sebagai pelengkap tulisan yang dasyat (gmn caranya Wien pk footnote?)
Hamba jadi malu karena penggunaan multiply hamba hanya untuk memperlihatkan pigura2 kegembiraan duniawi belaka.
Ampun beribu ampun!!!!!!!!!!!!!
Mohon topangan tangan dan bimbingan agar hamba kembali ke jalan akademis yang benar, sebenar-benarnya........ |
| |